Detik Perjalanan Abadi (1)

Bagian “Karakter ‘Arkanul Bai’at”

Semua yang mengenal Ustadz Nurhuda Trisula pasti sangat tahu bagaimana karakternya dalam da’wah, akhlaknya dengan sesama dan prinsipnya dalam hidup. Bahkan saat almarhum dalam keadaan sakit menahun pun, karakter, akhlak dan prinsip itu tak ikut luntur menghilang bersama lemah fisiknya. Bahkan di akhir-akhir hayatnya, beliau masih tetap meneladankan keseriusan dan pengorbanan fisik dan pikirannya kepada da’wah yang tiada terkira.

Dalam bulan-bulan terakhir, beberapa kali aku mendengar curhat dari beliau langsung tentang kegusaran istrinya akibat “keras-kepala” nya. Bagaimana Mba Win melarang untuk mengurangi aktifitas beliau, karena tanda-tanda stroke kedua yang kemungkinan mendekat. Sampai-sampai Mba Win pernah sms -sebagai bentuk gugatan kasih sayang- kepada beliau dan beliau ceritakan kepadaku; “aku telah menjadi istri yang gagal karena tidak mampu melarang suami untuk istirahat”. Beliau tidak pernah menanggapi dengan melankolis.

Ikhwah di DPW juga sering menutup-nutupi jadwal rapat demi keinginan seluruh ikhwah untuk tidak melibatkan beliau, karena melihat kondisi fisik beliau. Tapi beliau selalu menemukan cara dengan mencari tahu jadwal rapat dan memaksa ikut, memberikan kontribusi pemikiran dan solusi paling banyak dan paling sering mengarahkan seluruh ikhwah tentang langkah-langkah yang harus diambil berkaitan dengan strategi da’wah.

Hari Rabu, empat hari sebelum beliau tak sadarkan diri, aku masih di rumahnya dari jam 7 pagi hingga jam setengah 12. Aku masih membuat bahan presentasi untuk disampaikan beliau kepada BPH DPW. Diantara wajah letih beliau, beliau masih mau mendengarkan paparanku. Di sela-sela paparanku, beliau sempat berkata; “akh, saya lihat antum seperti berputar-putar badannya lho”. Aku langsung kaget dan menghentikan pembicaraan. Kataku; “Ustadz, kita stop dulu ya. Besok bisa kita lanjutkan. Antum istirahat dulu”. Tapi dengan tegas beliau mengatakan; “Tidak usah akh. Antum lanjutkan saja. Saya bisa mendengarkan sambil berbaring”.

Setengah jam kemudian, saat aku masih menjelaskan, beliau memotong dengan muka gusar; “akh, tangan saya dan kaki saya sebelah kanan tidak bisa digerakkan nih. Dari kemarin seperti ini”. Aku langsung cemas dan berkata; “Ustadz, kita stop dulu ya”. Beliau menjawab dengan tersenyum; “Tidak usah. Selesaikan saja. Santai akh”. Aku membatin, bagaimana bisa aku santai mendengar kondisinya. Akhirnya aku percepat presentasi dan mengcopy bahan presentasi itu ke flashdisk beliau. Saat aku diam begitu lama, sambil berbaring beliau berkata; “Akh, dua hari ini saya mengalami disorientasi. Jadi, saya bangun pagi dan tiba-tiba bingung mau ngapain. Saya bisa mengalami kebingungan hingga berjam-jam. Kata dokter, kalau kita disorientasi seperti itu, biasanya mau stroke yang kedua lho, dan itu alamat delapan puluh persen saya wafat”.

Beliau berkata seperti itu tanpa beban. Tanpa ketakutan. Tetap tenang dan sambil tertawa !. Aku saja yang mendengarnya begitu cemas. Waktu aku pulang, aku sempat berpesan; “syaikh, kalau boleh nyaranin, sebaiknya banyak istirahat”. Dan aku yakin, pesanku tak akan digubrisnya. Karena dia sudah menjadwalkan akan ke DPW seharian ini, ke Bontang esok harinya, ke DPP pada hari Jum’at dan ke Jakarta lagi untuk mengatarkan Adzkiya pada hari Ahad. Begitulah beliau dengan keteguhan dan sikap tak mau dikasihani-nya. Jika beliau bisa melakukan sendiri, buat apa minta bantuan yang lain katanya.

Kenangan tentang keteguhan beliau kerja keras beliau hingga wafat di jalan Allah juga di rasakan oleh sahabat-sahabat dekatnya. Ustadz Haris pernah jalan berdua bersamaku waktu ada acara Partai di Jakarta setahun yang lalu. Dan beliau dengan sangat gamblang menceritakan tentang Ustadz Nurhuda; “antum harus contoh Ustadz Nurhuda akh. Tentang obsesinya dalam da’wah, tentang komitmennya yang tiada pernah patah. Jangan pernah menyerah dengan masalah-masalah”. Kata-katanya membuatku tersenyum malu.

Saat aku bertandang ke rumah seorang ustadz yang sealmamater dengan beliau, setengah tahun lalu, Ustadz tersebut menceritakan bahwa dengan keteladanan akhlaknya, Ustadz Nurhuda menjadi orang yang bisa menengahi berbagai masalah di kalangan ikhwah di berbagai daerah. Saat ada konflik dan perbedaan pendapat, beliaulah orang yang didepan dua kelompok yang berselisih tersebut yang bisa menyatukan pandangan-pandangan ekstrim dan merangkumnya dalam sikap moderat dialiri kasih sayang dan persaudaraan

Orangtua Bang Icha, Ustadz Andre dan seluruh keluarganya, telah menganggap Ustadz Nurhuda adalah bagian dari anak dan saudaranya, karena mereka sangat lama berinteraksi dan memetik kebaikan, ketulusan, kasih sayang dan kuatnya ikatan persaudaraan dari Ustadz Nurhuda saat-saat da’wah ini di buka di Kalimantan Timur, dimana Bang Icha dan Ustadz Nurhuda berjibaku untuk pertamakali.

Beberapa saat setelah wafatnya Ustadz Nurhuda, saat Ustadz Zainal Haq masuk ke ruangan ICU sekitar pukul tujuh bersama Ustadz Hadi Mulyadi, beliau dengan suara terbata-bata menahan tangis menegaskan bahwa Ustadz Nurhuda adalah orang yang paling layak diteladani oleh seluruh ikhwah. Saat Ustadz Hadi Mulyadi memberi kata sambutan tentang kebaikan-kebaikan almarhum, beliau mengatakan, ; “Semua yang pernah mengenal almarhum, pasti kagum dengan kesungguhannya pada da’wah dan jama’ah. Dan harus diakui bahwa beliaulah yang merintis da’wah di Kalimantan, dan dengan segala kesungguhannya, kita menjadi orang-orang yang berdiri di jama’ah ini”.

Beberapa kali Ustadz Masykur juga pernah mengeluh kepadaku tentang Ustadz Nurhuda; “Memang akh, kalau mau belajar politik da’wah dan strateginya kita harus belajar kepada Ustadz Nurhuda. Tapi ya itu akh, semua mau dipikirkan dengan sangat serius. Beliau selalu ingin terlibat dan meng-eksekusi keputusan besar jama’ah. Padahal kan kita kasihan sama fisiknya. Takut ada apa-apa”. Di lain waktu, saat pidato pelepasan jenazah, beliau juga menegaskan bahwa; “semua ikhwah yang ada di Kalimantan, terutama Kalimantan Timur adalah murid-muridnya. Karena sebab almarhum dan izin Allah-lah, saya dan seluruh ikhwah mendapatkan hidayah Allah. Saya akui bahwa saya murid almarhum. Semua murid almarhum. Satu hal yang wajib kita lakukan adalah mencontoh semua kebaikannya”.

“Almarhum adalah ‘Arkanul Bai’at yang berjalan di antara kita. Kita tidak pernah meragukan pengorbanannya dalam da’wah ini. Kita begitu mengagumi keikhlasannya dalam jalan da’wah ini. Waktu menjadi anggota DPRD, beliau sampai memberikan duapertiga pendapatannya untuk da’wah dan sepertiganya untuk keluarga. Itupun masih terpotong untuk aktivitas da’wah sehari-hari. Bahkan almarhum pernah bercerita kepada saya bahwa almarhum hanya menyisahkan limaratus ribu untuk Bu Win dan anak-anak. Betapa kita sulit menemukan orang-orang seperti beliau. Kita wajib mengikuti jejak beliau, meneladani dan meneruskan apa yang menjadi cita-cita beliau”.

Begitulah beliau di mata sahabat dan kawan seiring perjuangan. Aku sendiri telah banyak menulis kenangan indah baik saat kami berdua mengunjungi kota lain, duduk berdua, atau bersama-sama saudaraku yang lain. Kurangkum sebagian kenanganku dalam sebuah tulisan pesan nan indah di hatiku. Dan sebagian kutuliskan untuk saudaraku yang lain, di “Penakluk Ribuan Hati”.

28 Januari 2012

Iklan

5 thoughts on “Detik Perjalanan Abadi (1)

  1. Ping balik: Nurhuda Trisula : Seorang Mu’asis Telah Pergi | namaku cahyadi takariawan

  2. Ping balik: Nurhuda Trisula : Seorang Mu’asis Telah Pergi « BPK PKS Medan Satria ~ Kota Bekasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s