Penakluk Ribuan Hati (4)

Bagian 4. Bekal Masa Depan

Dalam hal keteladanan dan kesungguhan berda’wah, beliau juga pernah memberikan nasihat-nasihat gemintang. Nasihat yang aku ingat antara lain adalah “keteladaan di dalam jama’ah”. Bagi beliau, seorang al-akh agar bisa dipercaya, ia harus menunjukkan kualitas keimanan, profesionalitas kerja dan keutamaan dalam persaudaraan. Jika memungkinkan, ibadah yaumiah kita dipelihara dengan shalat berjama’ah dengan paling awal datangnya, juga menjaga ibadah-ibadah sunnah. Berusahalah menjadi ikhwah yang paling merdu dan bagus bacaaan tilawahnya. Begitu juga dalam rapat-rapat da’wah. Berusahalah untuk datang paling awal, berusahalah untuk menampilkan data paling lengkap atas sebuah masalah, paling menguasai problem dan solusi tapi mampu membahasakan dengan bahasa yang sederhana, lugas, ilmiah tapi tetap lembut.

Nasihat yang lainnya yang juga akan menjadi bekal perjalananku adalah nasihat tentang “skala prioritas”. Bagi beliau, da’wah adalah prioritas. Dan semua urusan da’wah dimulai dengan beresnya seorang al-akh akan rutinitas nya menghadiri halaqoh. Seberat apapun pekerjaan seorang ikhwah, sesulit apapun tantangan hidupnya dan sesibuk apapun aktivitas kehidupannya, semua harus menghadiri halaqoh. Tarbiyah adalah pangkal da’wah dan tiada tarbiyah tanpa pertemuan. Beliau dengan berkaca-kaca di selimuti kecewa pernah bercerita tentang seorang ikhwah pejabat publik yang begitu sibuknya aktivitasnya hingga tiga pekan tak menghadiri halaqoh.

Beliau menceritakan tentang teladan komitmen dalam da’wah dan jama’ah dengan menceritakaan kisah Ustadz Hilmi Aminuddin. “Antum tahu bagaimana sibuknya Ustadz Hilmi. Sibuknya melebihi SBY, karena jadwal beliau yang begitu padat, menghadiri rapat, menerima kunjungan, memberikan taujih atau melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Suatu waktu, saat Ustadz Hilmi berkunjung ke sebuah daerah di Indonesia Timur yang direncanakan harus di hadiri selama dua hari, pada hari pertama setelah kunjungannya, tiba-tiba Ustadz Hilmi membeli tiket pulang ke Jakarta, dan datang lagi keesokan harinya. Saat ikhwah dari daerah itu bertanya kenapa Ustadz Hilmi menyempatkan pulang lalu kembali lagi, Ustadz Hilmi menjawab bahwa ada kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Kesibukan itu, kata Ustadz Hilmi; menghadiri halaqoh”.

Menurut beliau juga, ada beberapa prioritas yang harus dikerjakan oleh setiap ikhwah. Prioritas itu memiliki binaan halaqoh, mempelajari bahasa arab dan inggris, menguasai teknologi sosial media dan membagus kan (tahsin) bacaan qur’an. Bagi beliau, membina halaqoh adalah syarat kedewasaan seorang ikhwah. Ia menjadi prasyarat utama bagi seorang ikhwah untuk mendapatkan amanah da’wah yang lebih besar dari sebelumnya. Bagi beliau juga, seorang ikhwah harus mempelajari bahasa arab dan inggris atau bahasa internasional lain. Karena, zaman telah berubah, da’wah telah menyebar ke seluruh dunia, dan hubungan dan jarak menjadi kabur. Ikhwah bisa dengan leluasa pergi atau berkunjung ke negara lain. Interaksi antar bangsa menjadi sesuatu yang jamak. Dan bahasa adalah pokok awal komunikasi.

Begitu inginnya beliau mempelajari bahasa arab dan inggris, dengan keterbatasan dan kesibukan beliau, beliau tetap menyempatkan diri untuk mengikuti kursus bahasa arab setiap senin hingga jum’at. Beliau juga mewajibkan istrinya untuk belajar bahasa arab. Di detik lain, beliau bercerita tentang pentingnya membaguskan bacaan qur’an. Beliau memandang bahwa masyarakat umum adalah masyarakat yang masih begitu hormat dengan siapapun yang menguasai hapalan Al-Qur’an dan memperdengarkannya dengan sangat bagus. Jika ikhwah bisa membaguskan bacaan qur’an, maka masyarakat akan tsiqoh dan percaya pada kader da’wah. Selain memperbagus bacaan qur’an, tak lupa beliau sampaikan tentang pentingnya ikhwah menguasai teknologi dan media sosial. Bagi beliau, media sosial bisa menjadi alat untuk mengkomunikasikan secara efektif pikiran-pikiran jama’ah tentang perbaikan masyarakat. Media sosial juga bisa menjadi alat yang mengkebiri dan menghancurkan nama baik jama’ah, karena itu, kita wajib mengantisipasi dan menjaganya.

Nasihat lain yang tergurat di hatiku adalah nasihat tentang “pandangan yang benar tentang posisi dan peran”. Bagi beliau, seorang ikhwah yang benar, adalah ikhwah yang senantiasa memproduksi semangat untuk berperan besar dalam da’wah dan bukan semangat menggebu mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya. Kata beliau, ada semacam pergeseran yang mewabah di kalangan masyarakat, bahwa masyarakat mulai di hinggapi jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab bagi masa depan. Ikhwah harusnya menegaskan sebaliknya. Ikhwah harus seperti kata Ustadz Hilmi dan peribahasa arab yang dikutipnya; “kun kitaaban mufiidan bila ‘unwaanan, wa laa takun ‘unwaanan bila kitaaban”. Mengokohlah kita dalam bentuk kitab yang bermanfaat walau tanpa judul. Tapi, jangan sekalipun kita menjadi insan yang memiliki judul tapi tanpa kitab. Beliau menegaskan berkali-kali, bahwa jabatan itu tak penting dalam dunia da’wah. Yang paling penting adalah kontribusi. Maka sungguh biasa sekali peristiwa pencopotan Panglima Khalid oleh Khalifah Umar, karena dengan tanpa jabatan panglima-pun seorang Khalid tetap menjadi prajurit dengan beribu obsesi meninggalkan bumi.

Di lain kesempatan, beliau menceritakan kepadaku tentang betapa tak pentingnya pandangan manusia dan ikhwah pada umumnya tentang amal seorang ikhwah. Beliau begitu masygul jika ada ikhwah yang masih mengharapkan pujian saat melakukan kerja-kerja da’wah. Karena beliau teringat akan cerita di zaman Rasulullah, dimana ada seorang sahabat yang tak di kenal di kalangan manusia, tapi senantiasa menjadi pembicaraan penduduk langit bernama Uwais Al Qarny. Sahabat Rasulullah itu senantiasa beribadah dengan khusyu’ dan sembunyi-bunyi, tak pernah lelah memberikan kontribusi menggunung tinggi walaupun tiada siapapun yang memuji. Maka benarlah Rasulullah yang menjadi inspirasi guruku yang bersabda; “sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (mencukupkan apa adanya), dan yang beribadah secara khafi (sembunyi-sembunyi)”.

Nasihat lainnya yang juga membuatku terjerembab dalam rasa malu yang bertubi-tubi adalah nasihat tentang; “istiqomah dan pantang menyerah”. Nasihat itu beliau berikan terkhusus buatku. Saat aku mendapatkan masalah bertubi-tubi yang menyebabkan aku tak begitu semangat menghadiri halaqoh atau kegiatan jama’ah lainnya, beliau terhitung lima atau enam kali bercerita kepadaku tentang kisah nyata pada saat beliau menjadi Ketua Umum Masjid di STAN.

“Dulu, waktu saya menjadi Ketua Umum Masjid di STAN, di kalangan dosen dan mahasiswa, ada dua organisasi yang mendominasi dan sangat disegani di kampus saya. Dua organisasi itu adalah Mapala (organisasi pecinta alam) dan Masjid STAN. Setiap tahunnya, dua organisasi ini bersaing untuk berebut pengaruh di pemilihan BEM STAN. Di antara kedua organisasi ini, ada semacam persaingan diam-diam. Suatu waktu, di sebuah kota, diadakanlah lomba lintas kota. Kalau tak salah Lomba Lintas Kerawang-Bekasi, semacam lomba menapaki perjalanan pejuang di antara dua kota, dengan berjalan kaki. Saya berpikir, bahwa inilah saatnya untuk “menundukkan” anak-anak Mapala. Maka saya mencari ikhwah yang mau dan mampu mengikuti lomba itu. Saya menemukan seorang al-akh yang mau, dan kebetulan, al-akh yang menjadi relawan ini adalah penggemar olahraga kepecinta-alaman. Maka, pada hari H kegiatan, ikhwah itu mengikuti lomba tersebut. Anak-anak Mapala menurunkan timnya yang terdiri dari lima atau sepuluh orang”.

“Saat lomba dilaksanakan, kami menunggu dengan cemas hasilnya. Dan saat yang dinantikan itu akhirnya tiba. Tak disangka oleh semuanya, al-akh itu menang di posisi pertama atau kedua. Hasil itu benar-benar menghebohkan seluruh kampus, karena disamping dia bukan berasal dari organisasi pecinta alam, ternyata juga, banyak organisasi pecinta alam yang tak sampai di finish karena jauhnya jarak perjalanan. Atau masuk ke finish di urutan belakang. Saya penasaran dengan al-akh itu, kenapa ia bisa masuk finish dan menjadi juara perlombaan. Waktu saya tanya rahasianya, al-akh itu menjawab dengan jawaban penuh makna; perjalanan lomba itu memang begitu jauh dan tak kelihatan ujungnya. Dan karena jauh itu, al-akh itu mensiasatinya dengan memastikan dua hal. Yang pertama, ia memastikan bahwa ritme kakinya harus selalu stabil dan konstan, dengan senantiasa memperhatikan jarak langkah kaki. Yang kedua, ia memastikan bahwa selangkah di depannya tak ada lubang atau halangan lain. Ia tak pernah melihat jalan membentang di depan mata. Ia hanya fokus melihat gerakan langkah kaki dan jalan di depan kakinya”.

Ada peristiwa lain yang aku alami bersama beliau yang menjadi renungan bagiku tentang sifat pantang menyerahnya. Tahun 2010 akhir, saat aku mengikuti kemah kader, aku kebetulan mengikuti dan bergabung menjadi satu kelompok bersama beliau. Dalam sesi permainan perebutan bendera antar kelompok, aku mendapati bahwa beliau termasuk orang yang paling “ngotot”. Di akhir acara, saat kami harus menempuh long march sebagai sesi wajib bagi peserta, beliau memaksa ikut kepada panitia. Padahal jarak perjalanan yang harus kami lalui sepanjang empat puluh kilo meter. Beliau sempat mengeluh sakit dan terseok-seok. Waktu itu, beliau sudah mengalami stroke yang pertama, dan salah satu telapak kakinya baru sembuh usai operasi karena tulangnya patah. Tapi beliau begitu mengagumkan. Karena beliau menikmati longmarch itu dengan melontarkan guyonan, cerita-cerita dan senyuman di sepanjang jalan. Berkali-kali aku menyarankan untuk istirahat, tapi beliau menolaknya. Bahkan wajahnya kadang membesi jika di larang.

Begitulah beliau dan kesan yang mengindah di hatiku tentang pribadi beliau. Aku yakin, banyak ikhwah yang mendapatkan kesan berbeda tentang beliau. Tapi buhulnya pasti hanya satu; keteladanan da’wah. Beliau salah satu generasi mujahid da’wah yang dengan izin Allah dan melalui perantaranya-lah, lahir ribuan jiwa-jiwa tangguh yang memakmurkan bumi Allah di Indonesia dan Kalimantan Timur dengan kalimat kebenaran dan kedamaian hati. Melalui perantara kata-kata beliau pula-lah, banyak hati terpesona, takluk, tergugah, bangkit dan merapat berbaris di jama’ah da’wah.

Tubuhnya mungkin begitu lelah dan menyenja. Tapi hati dan jiwanya seperti pedang terhunus yang tetap mengkilat di medan laga. Dan sekali lagi, setiap orang yang pernah mengenalnya atau bertutur sapa dengannya pasti akan mendapatkan kesan yang sama; nasihat kehidupan yang begitu dalam dan komitmen di jalan kebenaran yang tidak tergoyahkan. Dan aku tak mau hidup hanya untuk jadi pengenang kebaikan beliau, lalu menulisnya hanya di prasasti hati banyak manusia. Tapi aku sungguh ber ‘azzam untuk berdiri demi melihat jiwanya, mengaguminya, menaburkan benih ketulusan yang beliau miliki di hati banyak pejuang lalu berusaha sekuat tenaga mengikuti jejaknya, menjadi pengganti peran-peran mulianya; membangun peradaban.

Hari-hari ini, aku banyak melafalkan do’a. Do’a yang kulantunkan dengan tangis di penghujung malam; “Allahummasyfi Li Ustadz Nurhuda Trisula, Allahummanshurhu warhamhu wabarik lahu ya Allah. Antas syaafi Laa syifaa’an illaa syifaa’uka syifaa’an Laa yughadiru saqama. Bismillahi nawakkalna alaLLahi laa haula walaa quwwata ilaa biLlahi. Amiin”.

Ya Illahi, izinkanlah muassis tangguh itu hadir kembali membersamai kami yang belia ini.

16.01.2012

Iklan

2 thoughts on “Penakluk Ribuan Hati (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s