Penakluk Ribuan Hati (3)

Bagian 3. Nasihat Tak Terlupakan

Ada juga beberapa nasihat yang membekas darinya yang mengabadi dalam buku catatan hatiku. Nasihat yang senantiasa menjadi bunga pengantar mimpi tentang kedamaian, keluhuran akhlak, dan kesungguhan yang meninggi. Ia, nasehat-nasehat itu, menjelma menjadi bisikan-bisikan menggema yang membersamai langkah kaki. Ia senantiasa menjadi tetulisan yang mencercah di cakrawala saat aku duduk dan berdiri dalam sepi perenungan.

Nasihat pertama yang begitu membekas di hatiku adalah nasihat tentang “Itsar”. Suatu waktu, aku bertengkar hebat dengan seorang al-akh. Pertengkarannya mungkin terbilang sederhana. Masalah anak muda pada umumnya. Tapi tidak bagi beliau. Saat aku adukan masalah pertengkaran ini, beliau berkata dengan raut muka yang mengeras; “akhi, jika ada dua orang saudara yang bertengkar, maka hanya ada dua kemungkinan; hati salah satunya bermasalah, atau hati keduanya bermasalah”. Aku terduduk diam mendengar kata-katanya. Hujan deras mengguyur di dalam hati. Perasaan “aku benar dan dia salah” yang sebelumnya menghinggapi hatiku, berubah menjadi keternaifan yang teramat sangat.

Lain waktu, saat aku menceritakan bahwa dadaku merasa sesak, walaupun telah mendahului meminta maaf kepada seorang al-akh yang telah aku perselisihi, beliau mengutarakan kata-kata indah yang beliau ambil dari nasihat seorang ulama; “akhi, saudara yang lurus memandang pada saudaranya lebih utama dari pada dirinya sendiri”. Di lain waktu, beliau mengutip kata-kata yang menenang-membekas dari seorang ulama juga; “akhi, ukhuwah itu saudara seiring keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembar kekufuran. Kekuatan ukhuwah adalah kekuatan persatuan; tidak ada persatuan tanpa cinta kasih; minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar. Itsar itu mementingkan orang lain dari diri sendiri”.

Lain waktu, beliau menceritakan apa itu itsar. Di depan seorang masyaikh da’wah senior yang sekarang pindah ke Sulawesi Selatan, beliau pernah menangis. Betapa beliau tak tahan menjadi anggota legislatif dan ingin menjadi “aktivis tarbiyah”. Menikmati hari-hari mengisi halaqoh, dauroh atau pelatihan peningkatan kapasitas kader da’wah. Beliau ingin menyerahkan urusan legislatif kepada al-akh yang lain dan ingin berkonsentrasi penuh pada penataan manajemen di partai yang beliau rasa masih lemah. Sayangnya, keinginan beliau tidak diaminkan oleh jama’ah. Beliau tetap berlapang dada dan bersemangat dengan amanah-amanah dan perintah jama’ah.

Nasihat kedua yang selalu aku ingat adalah nasihat bagaimana “mengukur kejujuran”. Beliau punya standar untuk mengukur kejujuran dan kebajikan orang. Ajaibnya, standar yang beliau pakai selalu menyandarkan pada riwayat salafushalih. Kata beliau suatu waktu; “Akhi, jika engkau ingin mengetahui kebenaran dan ketulusan seseorang dalam sebuah masalah, terutama tentang agama-nya, maka lihatlah subuhnya. Jika ia merutinkan diri berjama’aah di subuh hari di masjid jami’, maka ia orang yang terang sanubari-nya. Karena jama’ah di subuh hari bagi Nabi, para sahabat dan ulama adaalah tolok ukur kejujuran atau kemunafikan.

Nasihat ketiga yang begitu membekas buatku adalah nasihat tentang “cara berpikir atas sebuah masalah”. Sangat sering beliau menyatakan dengan senyum tulus; “Akhi, seorang da’i itu harus luas wawasannya, terang fikirannya dan mengangkasa visi dan citanya. Bacalah banyak buku. Dari berbagai disiplin ilmu. Hingga setidaknya antum menguasai apa yang menjadi topik dan pembicaraan intelektual, aktivis dan masyarakat. Banyaklah berdiskusi dan pimpinlah opini. Islam bisa di menangkan karena gagasan dan narasinya merajai kepala dan hati manusia. Tapi satu yang perlu diingat. Asah keahlian terbaikmu. Ikhwah juga jangan sampai hanya menjadi jack of all trades, but master of none. Hanya banyak tahu tapi tidak ahli apapun”.

Beliau melanjutkan dengan cerita tentang masyaikh da’wah. “Dulu, Ustadz Anis Matta senantiasa merutinkan diri untuk membaca buku minimal tiga buku dalam sehari. Saat beliau ingin mendalami tentang sesuatu, beliau senantiasa mendisiplinkan diri untuk membaca buku-buku yang berisi bidang dan pengetahuan yang ingin beliau pelajari. Pernah, beliau membaca literatur berbahasa arab selama dua tahun, dan menghindari bahasa lain, karena ingin sempurna penguasaannya tentang bahasa arab. Begitu juga ilmu-ilmu lain. Outputnya sekarang terlihat jelas. Beliau menjadi sosok yang secara keilmuan, di atas rata-rata ikhwah kebanyakan”.

Nasehat keempat yang sangat membekas adalah tentang “keberanian dan obsesi da’wah”. Di sela-sela pengajian, beliau banyak bercerita tentang masa lalunya, aktivitasnya dan impian masa depan. Suatu waktu, beliau pernah bercerita; “Akhi, waktu SD dulu, saya akui saya teramat sangat nakal. Terhitung setiap hari pasti berkelahi. Almarhum ayah saya selalu menanyakan jika saya menangis dan pulang ke rumah?. Diapain, tanya ayah saya. Kalau saya bilang dipukul teman, ayah saya pasti akan menyahut; balas dong. Jadi orang harus berani. Begitulah ayah saya akh, selalu mengajarkan tentang keberanian menghadapi siapapun. Karena itu pula, saya kemudian mempelajari Karate hingga ban hitam. Kelak, mental berani itu sangat saya rasakan pentingnya untuk membela da’wah. Saya pernah membentak seorang Jenderal pada saat Pilgub 2003, karena cara berpikirnya yang salah dalam strategi pemenangan dan berpotensi membuat kalah calon yang diusung jama’ah. Saya tidak takut akh. Karena kita berjuang di barisan kebenaran. Seorang mujahid harus berani dan pantang menyerah”.

Lain waktu, beliau bercerita tentang masa kecilnya ketika SMP hingga lulus kuliah. “Akhi, waktu saya SMP, setelah mengalami masa-masa bengal di SD, saya mulai banyak merenung tentang kehidupan. Saya mulai keranjingan membaca buku. Bahkan saya menyukai buku-buku atheis yang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Sebagai bentuk dialektika dalam diri saya, saya sampai meninggalkan sholat. Tapi tak lama kemudian, hidayah Allah datang. Sekitar kelas tiga SMP saya mulai bersentuhan dengan kegiatan masjid dan da’wah islam. Saya mulai masuk PII dan mengisi pengajian, padahal waktu itu belum mengerti yang namanya halaqoh. Tapi memang di PII (Pelajar Islam Indonesia), ada semacam tata aturan pendidikan kader seperti halaqoh. Saya mengalami fase pencarian pola da’wah dan gerakan yang sesuai itu hingga kuliah di STAN. Pada saat di STAN itulah, saya menjadi sangat serius berda’wah, mulai menjadi aktivis masjid hingga menjadi Ketua Umum da’wah masjid di STAN”.

“Dalam puncak keseriusan saya di da’wah dan harokah, saya sampai pernah memegang halaqoh hingga enam belas halaqoh. Jadi saya bagi waktu dalam sepekan untuk mengisi enam belas kelompok binaan. Ohya, kelompok usar saya juga gabungan dari berbagai mas’ul da’wah kampus di Jakarta dan sekitarnya. Ada ketua BEM atau Ketua Masjid dari ITB, UI, IKIP Jakarta, hingga IPB. Masing-masing sibuk dengan kegiatan da’wah di kampusnya. Karena murobbi saya adalah penanggungjawab da’wah yang membawahi da’wah di beberapa negara, kami sering melakukan liqo mandiri. Terlecut oleh kesibukan murobbi kami, kami juga mulai melakukan rencana-rencana membina halaqoh di seluruh Jawa dan Sumatera. Jadi setiap akhir pekan, mulai Jum’at hingga Ahad, kami naik kereta dan bus, ada yang ke Lampung, ada yang ke Jawa Timur atau daerah lain di luar Jakarta, untuk merekrut atau membuka kelompok baru di kalangan SMA lalu kemudian kembali lagi ke Jakarta pada Sabtu sore atau Ahad pagi. Antum bisa bayangkan bagaimana cara kami mengatur waktu antara kuliah, menjadi aktivis masjid atau BEM, membina halaqoh, membuka kelompok halaqoh baru hingga mengelola amanah-amanah kelompok baru dari hasil rekrutan kami”.

“Obsesi-obsesi itu tetap saya pelihara hingga lulus kuliah. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan Timur, saya melapor ke murobbi saya almarhum Rahmat Abdullah. Beliau bertanya kepada saya tentang apa obsesi yang akan saya kerjakan di ladang da’wah baru di Kaltim. Dan saya menjawab tegas. Beri saya waktu setahun dan saya akan berikan dua puluh lima kader da’wah, begitu janji saya. Dan saat waktu yang dijanjikan tiba, saya telah persembahkan enampuluh kader dari Kaltim, Kalsel dan Kalteng”.

Lain waktu juga beliau juga bercerita tentang obsesi yang pernah beliau capai. “Akhi, dulu waktu kami aktif di kegiatan masjid di STAN, dan saya menjadi Ketua Umumnya, kami mengalami kendala dengan dana operasional masjid. Berhubung ikhwah pada saat itu juga kesulitan dalam hal keuangan maka saya mencoba mencari terobosan. Pada saat itu, mahasiswa di STAN, selain di gaji, juga mendapatkan beras dari pemerintah. Kalau tidak salah 15 kg setiap bulan. Maka saya umumkan kepada seluruh ikhwah untuk menyumbangkan berasnya untuk kemudian dijual di Pasar Senen oleh ikhwah yang kita amanahi untuk menjual. Ikhwah yang saya beri amanah untuk menjual itu, saya tekankan untuk mengelola bisnis penjualan beras secara profesional. Sejak saat itu, keuangan masjid tidak pernah seret lagi, dan tercatat di masa saya, masjid kampus STAN banyak melakukan kegiatan gemilang dengan dana mandiri dan sangat melimpah”.

15.01.2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s