Penakluk Ribuan Hati (2)

Bagian 2. Cerita Ketulusan Cinta

Ada beberapa peristiwa yang membuat hubunganku dengan beliau begitu erat. Hingga kini. Peristiwa pertama tentu saja tentang perhatian. Seolah-olah beliau ingin menjelaskan dengan sikapnya, bahwa wujud nyata cinta seorang al-akh adalah perhatian. Kadang-kadang, perhatian yang diberikan tak selalu berupa tutur kata manis. Kadang justru marah yang keras-menyala. Seperti perhatian beliau kepadaku. Beliau memang terkenal keras atas prinsip yang dipegangnya. Tapi selalu lembut saat harus menerjemahkan prinsipnya kepada para belia mujahid da’wah yang meminta nasihatnya. Tapi sepertinya perlakuan itu tidak berlaku bagiku. Beliau mengajarkan keteguhan, pun ketika aku pada saat itu sedang terhimpit. Walaupun ajaran tentang keteguhan itu di selubungi rasa marah.

Marah yang pertama terjadi saat aku meminta ijin bekerja di lembaga riba. Marah yang kedua saat aku mengikuti proyek riset yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga riset dan harus meninggalkan pengajian selama dua bulan. Alasanku cuma karena uang dan pengalaman. Dan beliau begitu masygul karena jiwa mujahid tangguh harusnya bisa melewati cobaan kecil seperti itu. Peristiwa pertama reda, karena aku tak lagi melanjutkan tawaran pekerjaan itu. Peristiwa kedua bener-benar membuatnya meledak, karena aku bersikukuh menjalaninya. Lalu aku kembali setelah dua bulan itu. Tapi hatinya digores luka. Aku tak pernah memaafkan keras-kepalaku sejak saat itu.

Peristiwa kedua adalah pengorbanan. Waktu itu tahun 2005, dua tahun setelah kelulusanku. Dan aku sedang di hinggapi euforia kelulusan kuliah. Umurku baru dua puluh dua jalan dua puluh tiga saat lulus S1. Tahun 2005 aku menganggap diriku masih terlalu muda. Aku telah menanamkan mimpi jauh-jauh hari bahwa ketika aku lulus, aku akan leluasa dan merdeka mengeksplorasi gagasan gerakan di KAMMI dan di jalanan tiap hari. Tapi peristiwa berat menimpaku. Ayahku meninggal dunia di usia lima puluhan. Hari pertama aku mendengar kabar itu, aku begitu limbung. Berkali-kali aku hampir pingsan.

Orang pertama yang kuhubungi adalah beliau. Dengan segera, beliau menyuruhku ke rumahnya. Sesampai di rumah, beliau telah sediakan sejumlah uang untuk membeli tiket buatku dan sesegera mungkin mengurus pemakaman ayahku. Aku betul-betul menangis terharu. Dua tahun setelah itu, saat aku mulai mendapatkan penghasilan mengerjakan proyek-proyek riset, aku mencoba mengganti uang beliau. Beliau dengan tegas menampiknya. “Biarkan menjadi pemberat timbangan kebaikan saya”, jawabnya singkat.

Tapi yang paling penting adalah hari-hari setelah itu. Beliau sangat memperhatikan aktivitas dan tumbuh-kembangku. Selain mengarahkan kerja dan aktivitas sesuai potensiku, beliau juga menyemangatiku untuk mengasah kemampuan menulis, melanjutkan S2, menjadi pengusaha, peneliti atau dosen. Sekali waktu, saat air mataku mengambang di pelupuk mengingat ayahandaku, beliau menceritakan panjang lebar tentang ayahanda-nya yang aktivis partai, yang lalu muak dengan politik, mendekat pada Allah, dan melarang anaknya masuk partai, tapi lalu berbangga karena anaknya menjadi aktivis partai da’wah.

Aku menimpalinya dengan cerita yang serupa; “Alhamdulillah syaikh, cerita ayahanda kita berdua kurang lebih sama. Ayahanda saya dulu seorang aktivis partai orba, yang muak dengan kebusukan politik lalu menemukan jalan hidayah. Sempat masuk di Jama’ah Tabligh, tapi lalu melihat jalan terang dan (kembali) berkecimpung di partai da’wah. Di PKS, almarhum sempat mengaji dan menjadi penasehat DPC di kampung. Menyumbangkan dua kursi dari dapil di kampung dari total empat kursi”. “Alhamdulillah, semoga pengorbanan orangtua kita menjadi pahala yang bisa dibanggakan di Yaumul Hisab” timpal beliau menguatkan kami berdua.

Peristiwa ketiga adalah penumbuhan. Peristiwa ini terjadi saat beliau diamanahi untuk mengumpulkan dana sumbangan bagi perjuangan rakyat Palestina. Sehari sebelumnya aku masih bertegur-sapa dengannya. Tapi, malam itu aku mendengar khabar mengejutkan !. Beliau terserang stroke !. Beliau tak sadarkan diri. Menurut cerita beberapa ikhwah, dua harian memang beliau tak beristirahat karena menyiapkan acara tersebut di tambah urusan kedewanan. Waktu itu beliau memang anggota legislatif DPRD Kaltim.

Kalau urusan menjadi wakil rakyat, beliau tak perlu diragukan. Karena leadershipnya diakui oleh semua koleganya. Bahkan beliau terkenal sebagai salah satu diantara beberapa macan Karang Paci. Tapi sekali lagi, kerendah-hatian beliau begitu mempesona. Dulu, waktu ada proyek pembuatan buku “Bukan di Negeri Dongeng” untuk menceritakan ke publik tentang kejujuran, keberanian dan ketulusan aleg-aleg PKS se-Nusantara, beliau sempat mendapat tawaran untuk diceritakan kisah perjuangannya dan ditulis di buku itu. Tapi dengan halus, beliau menolaknya, walaupun kemudian tetap di tulis kisahnya. Rupanya, beliau teringat kalimat peringatan dari seorang shalih; “keterkenalan bagi seorang da’i adalah ujian. Yang akan menguatkan atau menggelincirkan”.

Kesibukan di da’wah dan politik yang tumpuk-menumpuk itulah yang melelahkan fisik dan pikiran beliau. Saat hendak mengambil air wudhu untuk qiyam, beliau jatuh tak sadarkan diri. Aku begitu terpukul. Sungguh-sungguh terpukul. Karena jauh di dalam hatiku aku merasa bahwa aku masih begitu kekanakan. Belum juga kokoh berdiri sebagai seorang dewasa. Tapi sepertinya sakit beliau berupa stroke dan terapi penyembuhannya yang menahun waktu itu menjadi pelecut asa bagiku, bahwa aku harus segera mendewasakan diri. Harus dewasa. Harus kuat memikul beban. Harus kuat.

Peristiwa keempat adalah perawatan. Tahun 2008 dan 2009 adalah masa-masa sulit buatku. Saat-saat aku jatuh karena beberapa hal. Karena kredibilitas publik, karena bisnis dan hal lainnya. Karena peristiwa yang melantakkan integritas ku. Aku juga sempat kehilangan pekerjaan rutinku. Aku benar-benar limbung waktu itu. Sungguh teramat limbung. Suatu waktu, ketika aku terlalu memikirkan begitu dalam masalah-masalahku, aku mengalami kecelakaan di jalan raya yang sangat parah. Semua akhirnya bisa menebak. Orang yang pertama kukhabari adalah beliau.

Dan selang sehari setelah kukhabari, beliau mengunjungiku. Ia datang bersama saudaraku tersayang yang lain. Sebagian masalahku hilang saat aku melihat senyum iba dan beribu ketulusan dari beliau. Beliau mengulangi kata-kata yang sering diucapkannya kepadaku; “Ada hamba-hamba Allah bukan nabi, bukan syuhada namun “disamakan” oleh para nabi dan syuhada dihadapan Allah”.

Beliau melanjutkan dengan menceritakan hadits riwayat Ahmad. Bahwa orang yang di samakan dengan para nabi dan syuhada itu adalah “mereka orang-orang yang saling mencintai dengan ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau hubungan kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang yang ketakutan dan tidak bersedih, bila ummat manusia bersedih”. Sejak hari itu aku menghadapi masalah dengan senyuman. Bayang keteduhan beliau selalu membersamaiku di saat aku gundah.

Kini, walaupun aku telah berpindah keluar kota, aku tetap rutin mengunjunginya, dua kali sepekan. Minimal sekali sepekan. Kadang, ketika rasa kangen begitu membuncah, aku mengajak anak istriku berkunjung ke rumahnya. Seringkali aku datang ke tempat yang kami janjikan sebelumnya untuk bertemu. Seringkali juga kami juga bertemu di rumahnya yang tetap asri dan menenangkan hati, walau minim tanaman.

14.01.2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s