Penakluk Ribuan Hati (1)

Bagian 1: Kesan Yang Mempesona

Aku mengenalnya karena tuntutan. Waktu itu, kelompok pengajianku harus dipindah dan di “pegang” oleh beliau. Aku sebenarnya merasa canggung dan tidak enak hati. Kenapa mesti di pindah?. Kepada siapa lagi aku menghamburkan curhat-curhatku?. Akankah “orang baru” ini akan bosan dan mengantuk mendengar keluhanku?. Akankah guruku nanti ini akan merasa nyaman dengan sifatku yang meledak-ledak, penuh semangat dan selalu saja protes tentang sesuatu?. Aku tak tahu, dan sungguh merasa malas memikirkannya.

Pertemuan pertama kami terjadi pada sekitar pertengahan tahun 2002. Waktu itu ba’da subuh. Dan udara begitu dingin. Dalam perjalanan awalku dari bilangan M. Yamin (aku masih tinggal di sekretariat lama KAMMI), aku membatin; “kenapa pertemuannya mesti ba’da subuh? Di udara yang begitu dingin?. Tidak adakah waktu lain?”. Tapi, karena -sekali lagi- tuntutan dan perintah dari guru pengajianku sebelumnya, aku tetap ikhlas datang sambil menunggu dan menikmati pengajian yang akan aku jalani bersama guru yang berbeda. Belakangan aku tahu, kenapa pertemuannya mesti ba’da subuh. Dan sungguh, kata “karena” itu mengagumkanku. Hingga kini.

Hari pertama aku menemui rumahnya dengan kesan yang tak berbekas. Rumahnya di bilangan Juanda, tipikal perumahan lama jaman sembilan puluhan, setengah batako, dengan halaman luas tanpa tanaman penyejuk mata. “Aih, sayangnya” dalam hatiku. Karena aku mencintai halaman rumah yang segar menghijau, aku tentu saja akan menyayangkan siapapun yang tidak menanami halaman rumahnya dengan bunga dan tanaman peneduh mata. Belakangan juga, aku nantinya akan tahu kenapa halaman rumahnya tetap di semen dan tak ditanami rumput. Walaupun memang, dua atau tiga tahun belakangan, aku dapati, rumahnya mulai rimbun dengan tanaman.

Sekitar jam enam pagi, pintu rumahnya dibuka. Lalu muncullah wajah teduhnya yang bercahaya. Kelopak matanya menghitam. “Orang ini kurang tidur” kataku dalam hati. Tapi senyumnya begitu mempesona. Suatu waktu nanti, wajah teduh bercahaya ini akan selalu aku ingat saat mengingati pesan yang indah dari cicit Rasulullah Hasan Al-Bashri, waktu ditanya; “mengapa seorang mukmin yang rutin ber-tahajjud berwajah indah?”. Lalu ulama shalih itu menjawab; “karena mereka (yang rutin melakukan tahajjud) senantiasa bermesra dengan Allah dan (karena itu) wajahnya terbasuh pancaran cahaya-Nya”.

Setelah mendapati kami di depan pintu, dengan antusias beliau mempersilahkan kami semua masuk. Pemandangan yang aku lihat pertama kali adalah buku-bukunya. Tak kurang dari tiga lemari besar menghiasi dinding rumahnya, dengan dihiasi buku-buku berbagai disiplin keilmuan. Kebanyakan tentang da’wah dan Islam. “Aha, aku akan menyukai orang ini. Karena aku suka buku dan suka berdiskusi”. Itu saja alasannya. Dengan hidangan awal berupa teh hangat dan sedikit camilan, kami memulai pengajian.

Begitulah awal perkenalannya. Tapi selanjutnya, setiap pekan, hatiku diisi oleh keterpesonaan yang menggulung-gulung tak pernah berhenti. Di balik sikap kalemnya, beliau menyimpan segunung cahaya dan ribuan semangat yang tak pernah habis di bagi kepada kami atau kepada siapapun. Beriring-langkah dengan santunnya, setiap kata yang keluar di tiap pekan perjumpaan berisi renungan yang begitu dalam, begitu luas, begitu mempesona. Karena hatinya begitu tulus, beliau menjadi perajut kata-kata penuh semangat yang begitu indah. Jika saja beliau bisa menuangkan kata-katanya dalam bentuk tulisan, aku yakin, beliau akan menjadi penulis cerita motivasi yang melegenda.

Karena, dengan ramuan kesederhanaannya, beliau mampu menceritakan keindahan berjuang di jalan Allah. Perjalanan panjang itu indah. Pengorbanan itu indah. Bersaudara itu indah. Ukhuwah itu indah. Menjadi siapapun itu indah. Amanah-amanah itu indah. Kemenangan itu indah. Tangisan itu indah. Sakit itu indah. Kematian itu indah. Dan kunci keindahan itu ada di hati. Hati-lah yang membuat semua jalan da’wah nan mendaki seperti jalan lengang menuju firdaus. Kata beliau; “bagi pejuang, semua pertempuran selalu berbuah kemenangan. Tak pernah ada namanya kekalahan. Kekalahan sejati bagi pejuang itu adalah ketika ia lari dari medan pertempuran”.

Dalam perjalanan rutinitas pengajian kami, sering kali aku begitu geli tapi lalu mataku menyembab diam-diam melihatnya. Saat beliau memejamkan mata dan terkantuk-kantuk di antara tilawah pembuka pengajian kami. Aku juga tahu belakangan kenapa beliau selalu terkantuk-kantuk. Beliau hanya sempat beristirahat sekitar tiga sampai empat jam sehari, dengan alasan yang benderang. Alasan yang sama kenapa beliau dan istrinya tak sempat memelihara tanaman di halaman rumahnya. Alasan yang sama kenapa beliau hanya punya waktu ba’da subuh untuk bertemu-muka dan menyapa hati kami. Alasan yang sama kenapa beliau menyempatkan tidur di sepuluh menit sela sebelum pengajian di mulai.

Beliau tak sempat menanami halaman rumahnya dengan tanaman penyejuk mata, juga tak sempat beristirahat dengan puas seperti halnya orang lain pada umumnya. Dan beliau tak lagi punya waktu luang untuk menyapa hati kami, kecuali subuh, dan hanya hari itu. Sekali lagi, hanya hari itu. Karena beliau terobsesi akan datangnya hidayah bagi ribuan hati melalui perantaranya. Karena beliau terobsesi untuk menghadirkan sejengkal taman syurga di hati-hati yang meranggas dan nelangsa. Karena beliau terobsesi untuk meninggal dunia dalam keadaan sedang menjejakkan cita-cita mulia di dada manusia. Karena pagi hingga larut malamnya hanya beliau isi dengan puluhan pekerjaan da’wah yang ingin beliau tunaikan. Karena -seperti yang berkali-kali diungkapkan kepadaku baik saat berdua maupun saat bersama saudaraku yang lain- beliau telah ber’azzam; “istirahat bagi seorang pejuang adalah ketika ia meninggalkan dunia ini”.

Maka benarlah Imam Syahid yang mengabadikan pesannya kepada seluruh da’i di muka bumi; “beban da’wah hanya dapat diberikan oleh mereka yang memahami dan memberikan apa saja yang kelak di tuntutnya; waktu, kesehatan, harta, bahkan darah. Mereka begadang saat semua tertidur lelap. Mereka gelisah saat yang lain lengah. Seakan-akan lisannya yang suci berkata, tidak ada yang kuharap dari kalian. Aku hanya mengharap pahala Allah”.

Pesan yang bila kuingat, selalu membuatku menangis, karena kapasitas komitmenku yang masih perlu dipertanyakan di jalan da’wah ini. Karena ketangguhan jiwaku tak seperti Imam Syahid atau da’i sesudahnya seperti guruku dan para asatidz da’wah lainnya. Sering aku berdo’a kepada Allah, sambil sesekali mengingat senyum teduh guruku itu; “Ya Allah, jadikanlah jiwaku jiwa yang tangguh seperti jiwanya. Karena misi kebenaran butuh jiwa-jiwa tangguh untuk memikulnya di jalan panjang nan tak berujung ini”.

Bertahun-tahun kami bertemu muka setiap pekan, saling mengenal, menjenguk, mengira-ngira dan menyapa hati. Hubunganku dengan beliau seperti hubungan sahabat akrab yang tak terpisahkan. Aku menganggapnya ayah dan abang. Ia menganggapku adik bengal yang tak juga lurus berjalan. Diantara kami ada marah, kecewa, sabar, ketidakmengertian, kemengertian, bahu-membahu, kerjasama, senyum dan maaf.

13.01.2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s